GLOBAL

Board of Peace Bisa Jadi Model Baru Penyelesaian Konflik Global, Kata Menlu AS

Board of Peace Bisa Jadi Model Baru Penyelesaian Konflik Global, Kata Menlu AS
Board of Peace Bisa Jadi Model Baru Penyelesaian Konflik Global, Kata Menlu AS

JAKARTA - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio mengungkapkan bahwa Board of Peace (BoP) berpotensi tidak hanya menangani krisis Gaza, tetapi juga bisa menjadi model baru dalam menyelesaikan konflik global yang kompleks. Pernyataan tersebut disampaikan Rubio saat konferensi tingkat tinggi perdana Board of Peace di Washington pada Kamis, 19 Februari 2026, sebagaimana dilaporkan oleh Metrotvnews.

Potensi Board of Peace untuk Konflik Kompleks Lainnya

Rubio menjelaskan bahwa krisis Gaza merupakan contoh situasi yang tidak terselesaikan oleh mekanisme internasional selama ini, sehingga membutuhkan pendekatan yang berbeda. Menurut dia, pembentukan Board of Peace mendapat persetujuan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk membantu mencari solusi atas konflik yang dinilai sangat rumit. “Saya berharap dewan ini dapat menjadi model bagi situasi rumit dan sulit lainnya agar dapat diselesaikan dengan cara yang sama, namun saat ini fokusnya masih pada Gaza,” ujar Rubio, dikutip dari TRT World, pada Jumat, 20 Februari 2026.

Board of Peace, yang dibentuk pada Januari 2026, awalnya dirancang untuk mengawasi implementasi rencana perdamaian dan rekonstruksi di Gaza setelah gencatan senjata antara Israel dan Hamas pada 2025. Namun, dengan piagam yang dibuat, dewan tersebut juga secara potensial dapat terlibat dalam upaya stabilisasi di kawasan konflik lainnya.

Relevansi Dewan Perdamaian di Kancah Global

Dalam KTT perdana BoP yang dihadiri lebih dari 45 negara, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut Board of Peace sebagai sebuah forum penting dalam upaya perdamaian global. Trump menekankan peran pemerintahan AS dalam menyelesaikan sejumlah konflik internasional selama masa jabatannya, serta menyampaikan komitmen untuk mendukung peran PBB melalui bantuan pendanaan dan perbaikan fasilitas organisasi internasional tersebut. Ia juga berharap Board of Peace dapat memperkuat efektivitas upaya perdamaian internasional.

Kehadiran negara-negara anggota yang cukup banyak dalam forum ini menunjukkan adanya minat internasional dalam model penyelesaian konflik baru, meskipun sejumlah negara sekutu tradisional AS tetap berhati-hati terhadap keterlibatan mereka. Lebih jauh lagi, inisiatif ini menunjukkan bahwa penyelesaian konflik yang tidak efektif melalui mekanisme tradisional internasional membuka ruang bagi pendekatan yang lebih fleksibel dan dialog antarnegara.

Latar Belakang Istilah dan Mandat Dewan

Board of Peace mulai digagas sebagai bagian dari fase kedua dari rencana perdamaian Gaza. Awalnya dibentuk untuk mendukung implementasi kesepakatan gencatan senjata dan tahapan demiliterisasi serta rekonstruksi, dewan ini kemudian diperluas mandatnya dalam piagam awalnya. Undangan ke berbagai negara di seluruh dunia mengindikasikan niat untuk menjadikan forum ini tidak hanya sebagai alat regional, tetapi juga mekanisme yang bisa merespons konflik lain yang memiliki dinamika kompleks.

Piagam Board of Peace juga menunjukkan keterbukaan terhadap keterlibatan dalam stabilisasi di luar Gaza, yang memungkinkan anggota dan pengamat forum untuk membantu merumuskan strategi penyelesaian konflik di berbagai konteks. Beberapa pakar internasional menyebut inisiatif ini sebagai eksperimen baru dalam diplomasi multilateral yang mencoba mengatasi keterbatasan badan-badan tradisional.

Tanggapan Internasional dan Kritik terhadap Mekanisme Tradisional

Pernyataan Rubio yang menyoroti perlunya pendekatan baru datang di tengah kritik yang lebih luas terhadap efektivitas lembaga multilateral seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam menyelesaikan konflik global. Sebelum konferensi Board of Peace, Rubio sempat menyampaikan pandangannya tentang perlunya peran lebih besar dari kemitraan internasional di luar struktur tradisional PBB, meskipun ia tidak serta merta menggantikan peran badan dunia tersebut.

Dukungan terhadap inisiatif ini beragam karena beberapa negara melihatnya sebagai peluang untuk lebih aktif dalam diplomasi perdamaian, sedangkan yang lain berhati-hati karena kekhawatiran potensi dominasi politik oleh negara-negara besar. Meski begitu, diskusi seputar model alternatif menyelesaikan konflik semakin meningkat, terutama ketika sistem yang sudah lama berjalan dinilai kurang efektif dalam meredam krisis multidimensional di berbagai belahan dunia.

Prospek Board of Peace ke Depan

Dengan dukungan lebih dari 45 negara dalam pertemuan perdananya, Board of Peace menunjukkan tanda-tanda berkembang menjadi platform baru bagi diplomasi multilateral. Meski saat ini fokusnya masih pada situasi Gaza, potensi ekspansi mandat dewan bisa membuka kesempatan bagi keterlibatan dalam isu-isu konflik lain yang belum terselesaikan. Ini menjadi pijakan awal untuk menilai apakah mekanisme semacam ini bisa menjadi paradigma baru dalam penyelesaian konflik global di masa depan.

Rubio dan Trump sama-sama berharap agar Board of Peace tidak hanya membantu stabilisasi dan rekonstruksi di Gaza, tetapi juga memberikan kontribusi nyata dalam memperkuat kerja sama internasional dalam menghadapi tantangan konflik di seluruh dunia.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index